Advertisement

Selasa, 05 Desember 2017

5 Penyakit yang Bisa Dideteksi dari Gigi dan Mulut Anda

5 Penyakit yang Bisa Dideteksi dari Gigi dan Mulut Anda

kondisi gigi dan mulut

Pergi ke dokter gigi bukan cuma untuk menambal gigi yang bolong atau ketika ingin pasang behel gigi. Cek kesehatan mulut dan gigi sebaiknya dilakukan rutin setidaknya 6 bulan sekali. Pasalnya, dengan mengecek kondisi mulut dan gigi Anda, dokter gigi dapat memberi tahu bahwa masalah gigi Anda bisa jadi pertanda suatu penyakit lain yang lebih serius. Simak ulasannya berikut ini.

Pentingnya kontrol rutin ke dokter gigi, meski tidak sakit gigi

Mulut merupakan lingkungan yang sangat cocok untuk pertumbuhan bakteri dan gigi memberikan tempat pada bakteri untuk menempel. Ketika bakteri tersebut menempel dan mengeras, maka akan terbentuk plak yang dapat menyebabkan peradangan gusi (gingivitis) dan pendarahan.
Dilansir dari Health Line, Nico Geurs, DDS, seorang direktur dari University of Alabama di Departemen Periodontologi di Birmingham sekaligus direktur UAB Dentistry Wellness Clinic, mengatakan bahwa kesehatan mulut dan gigi nyatanya mencerminkan status kesehatan tubuh secara keseluruhan. Seorang dokter gigi dapat mendeteksi penyakit dalam hanya dengan melihat gejala dan perubahan yang tampak pada mulut dan gigi Anda.
Dengan begitu, ia dapat merujuk Anda pada dokter spesialis yang mengkhususkan diri pada penyakit terkait.

Beberapa masalah kesehatan yang dapat dilihat dari kondisi gigi dan mulut

1. Diabetes

Diabetes memengaruhi kemampuan Anda untuk melawan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi gusi. Penyakit gusi juga dapat memengaruhi kontrol gula darah di dalam tubuh. Ketika diabetes tidak terkontrol, tidak hanya glukosa yang ada di dalam darah saja yang meningkat, tetapi juga glukosa pada air liur. Air liur yang mengandung gula tinggi menyebabkan bakteri mudah tumbuh di dalam mulut.
Komplikasi diabetes dapat menyebabkan banyak gangguan kesehatan mulut dan gigi. Menurut American Diabetes Association, orang dengan diabetes berisiko lebih tinggi untuk mengalami radang gusi, penyakit gusi (gingivitis), dan periodontitis (infeksi gusi parah yang disertai dengan kerusakan tulang). Diabetes juga dapat menyebabkan Anda mudah mengalami sariawan, bau mulut, gigi mudah copot, hingga mulut kering.

2. Penyakit jantung

Dilansir dari Mayo Clinic, banyak penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara penyakit periodontitis dengan peningkatan risiko perkembangan penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler). Jika Anda diketahui memiliki penyakit gusi kronis, risiko pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis) di leher dapat meningkat.

3. Leukimia

Apa hubungannya gigi dan mulut dengan kanker darah? Begini, leukimia atau kanker darah dapat menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif dan terasa sakit. Hal ini terjadi karena dentin yang melindungi gigi terkikis dan meyebabkan erosi gigi. Selain itu, penderita leukimia juga bisa mudah mengalami gusi bengkak dan berdarah.

4. Penyakit Crohn

Penyakit Crohn yang salah satunya merupakan kolitis ulserativa adalah penyakit yang menyebabkan peradangan pada seluruh lapisan pencernaan, dari mulut hingga ke anus. Jika dokter gigi Anda menemukan adanya luka terbuka yang sulit sembuh dan terjadi berulang dapat menjadi salah satu tanda penyakit Crohn.

5. Penyakit asam lambung atau GERD

Refluks asam lambung (GERD) yang juga biasa disebut maag muncul akibat pola makan yang tidak teratur. Ini menyebabkan asam lambung meningkat dan mengikis enamel gigi dan  dentin. Asam lambung yang naik ke tenggorokan dan sampai ke mulut dapat menipiskan lapisan enamel dan dentin gigi sehingga membuat gigi sensitif, terutama di daerah gigi belakang.
Selain rutin ke dokter gigi untuk cek kesehatan gigi dan mulut, penting juga untuk selalu rajin gosok gigi dua kali sehari (pagi dan malam sebelum tidur). Kurangi juga konsumsi makanan dan minuman manis.

Kamis, 30 November 2017

Seperti Apa Rasanya Punya Borderline Personality Disorder?

Seperti Apa Rasanya Punya Borderline Personality Disorder?

borderline personality disorder

Borderline personality disorder adalah kondisi psikologis di mana seseorang mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosinya. Kondisi yang juga dikenal dengan sebutan gangguan kepribadian ambang ini umumnya ditandai dengan perubahan mood yang mendadak, tidak percaya diri, dan kesulitan menjalin hubungan sosial.
Namun, sebenarnya seperti apa wujud kondisi ini dan seperti apa rasanya menjadi orang yang punya borderline personality disorder? Temukan jawabannya di bawah ini.

Apa itu borderline personality disorder?

Berdasarkan National Institute for Health and Clinical Exellence pada tahun 2009, seseorang dapat dikatakan memiliki gangguan kepribadian borderline kalau menunjukkan lima atau lebih gejala di bawah ini. Gejala tersebut antara lain:
  • Memiliki emosi yang tidak stabil, misalnya merasa sangat percaya diri dalam satu hari, namun merasa sangat putus asa pada hari berikutnya. Perubahan mood yang tidak stabil juga disertai perasaan hampa dan disertai kemarahan.
  • Sering kali merasa kesulitan dalam menjalin dan mempertahankan suatu hubungan.
  • Sering kali melakukan tindakan tanpa memikirkan risiko dari perbuatan tersebut.
  • Memiliki rasa ketergantungan pada orang lain.
  • Melakukan tindakan-tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri, atau berpikir dan merencanakan tindakan yang membahayakan diri sendiri.
  • Memiliki rasa takut akan penolakan atau kekhawatiran akan rasa kesepian
  • Sering kali memercayai hal-hal yang tidak nyata atau melihat atau mendengar hal-hal yang tidak nyata
Seseorang yang memiliki kepribadian borderline, kerap mengalami gangguan kepribadian lainnya seperti kecemasan, gangguan makan (misalnya anoreksia nervosa dan bulimia) atau ketergantungan terhadap alkohol dan obat-obatan.

Seperti apa rasanya memiliki borderline personality disorder?

Borderline personality disorder adalah suatu gangguan yang bisa membuat pengidapnya hampir selalu merasa khawatir, rendah diri (minder), dan ketakutan. Memang wajar kalau Anda merasa cemas ketika hendak mengambil keputusan penting, misalnya. Akan tetapi, kalau Anda terus-terusan merasa demikian bahkan ketika tidak ada pemicu yang jelas, bisa jadi Anda punya kepribadian borderline.
Begini, bayangkan saat di mana Anda berkumpul bersama keluarga. Keluarga Anda sedang mengobrol seru sambil tertawa lepas. Tiba-tiba Anda justru merasa sedih dan kalut, mengapa Anda sendiri tidak bisa menikmati suasana itu seperti yang lainnya? Akhirnya, Anda jadi menyalahkan dan membenci diri sendiri.
Atau Anda dan seorang teman sudah janjian menonton film bersama di bioskop. Sayangnya, teman Anda malah membatalkan janji tersebut. Meskipun teman Anda membatalkan janji karena memang ada urusan penting, Anda tak bisa mengendalikan pikiran negatif bahwa sebenarnya dia sengaja membatalkan karena tidak mau pergi bersama Anda.
Pikiran-pikiran seperti itulah yang akhirnya membuat Anda merasa begitu hampa dan putus asa. Seolah-olah Anda hanya sendirian di dunia ini dan tidak ada yang mengerti perasaan Anda. Namun, di sisi lain Anda juga merasa dibanjiri oleh berbagai macam emosi negatif yang campur aduk. Ketika perasaan tersebut muncul, Anda pun bisa meledak-ledak tak terkendali.
penyebab depresi pada wanita

Bagaimana caranya supaya bisa merasa lebih baik?

Ada beberapa tips agar orang dengan gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder merasa lebih baik dan penuh kendali. Simak tips-tipsnya berikut ketika gejala-gejala gangguan ini sedang kambuh.  
  • Beraktivitas fisik seperti menari, jalan kaki, berolahraga, membersihkan rumah, atau aktivitas lainnya untuk mengalihkan perhatian dari emosi saat itu.
  • Bermain musik bisa membantu memperbaiki mood. Mainkan musik yang menyenangkan ketika sedih, atau mainkan alunan musik yang menenangkan bila sedang merasa cemas.
  • Bicara dan bercerita dengan seseorang yang dipercaya.
  • Melakukan meditasi.
  • Melakukan latihan pernapasan supaya lebih rileks. Duduk atau berbaringlah pada tempat yang tenang, kemudian bernapaslah dengan tenang, perlahan, dan mendalam.
  • Tidur dan istirahat yang cukup.
  • Membaca buku yang menarik.
  • Kenali dan kelola setiap emosi yang muncul, misalnya dengan cara menulis buku harian.
  • Mandi air hangat, terutama sebelum tidur kalau Anda juga memiliki insomnia.

Bagaimana cara mengatasi kepribadian borderline?

Konseling psikoterapi dengan psikolog atau terapis bisa membantu mereka yang memiliki kepribadian borderline. Psikoterapi bisa dilakukan dua kali dalam satu minggu. Tujuan dari psikoterapi adalah untuk mengurangi tindakan yang dapat membahayakan hidup, membantu mengatur emosi, memberi motivasi dan membantu meningkatkan kualitas hidup. Psikoterapi dapat dilakukan baik secara individual maupun dalam kelompok.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dalam jurnal Primary Psychiatry, mereka yang menjalani psikoterapi memiliki tingkat kemajuan yang baik dalam menjalin hubungan sosial, menahan diri dari hal-hal yang impulsif dan bahaya, serta mengendalikan emosi setelah dalam waktu enam bulan.

Membedakan 7 Jenis Depresi dan Beragam Pemicunya

Membedakan 7 Jenis Depresi dan Beragam Pemicunya

jenis depresi

Pada dasarnya, depresi merupakan gangguan mood yang jauh lebih serius daripada merasakan kesedihan yang berlarut-larut. Akan tetapi, depresi itu ada banyak jenisnya. Selain itu, gejala-gejala dan keluhan depresi juga biasanya berbeda-beda pada setiap orang. Jadi sebenarnya apa saja jenis depresi yang harus diketahui? Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Depresi mayor (depresi berat)

Depresi mayor juga dikenal dengan istilah depresi berat atau depresi klinis. Depresi mayor merupakan salah satu dari dua jenis depresi yang paling sering terdiagnosis. Anda bisa didiagnosis dengan depresi mayor apabila gejala-gejala kesedihan, keputusasaan, dan kesepian sudah berlangsung selama dua minggu lebih.
Gejala depresi mayor pada umumnya cukup serius sehingga efeknya sangat terasa pada aktivitas dan kualitas kehidupan seseorang. Misalnya Anda jadi tidak nafsu makan sama sekali, badan lemas sehingga tidak ada dorongan untuk bekerja atau beraktivitas seperti biasa, serta menghindari orang-orang seperti di tempat kerja atau dalam keluarga.
Hingga saat ini penyebab pasti dari depresi mayor belum dapat diketahui. Namun, beberapa hal yang bisa memicu depresi antara lain keturunan (genetik), pengalaman buruk, trauma psikologis, serta gangguan susunan kimiawi dan biologis otak.

2. Depresi kronis (distimia)

Jenis depresi lainnya yang paling sering terdiagnosis adalah depresi kronis. Beda dengan depresi berat, jenis depresi kronis biasanya dialami selama dua tahun berturut-turut atau lebih. Akan tetapi, keparahan gejalanya bisa lebih ringan atau berat daripada depresi berat.
Depresi kronis pada umumnya tidak terlalu mengganggu pola aktivitas, tapi cenderung memengaruhi kualitas kehidupan. Misalnya jadi tidak percaya diri, pola pikir terganggu, sulit berkonsentrasi, dan mudah putus asa.
Pemicunya ada banyak. Mulai dari faktor keturunan, gangguan kesehatan jiwa lainnya seperti gangguan bipolardan kecemasan, mengalami trauma, memiliki penyakit kronis, dan cedera fisik di kepala.

3. Depresi situasional

Depresi situasional merupakan jenis depresi yang tidak begitu menentu. Biasanya, jenis depresi ini ditandai dengan munculnya gejala depresi seperti merasa murung dan adanya perubahan pola tidur dan pola makan ketika ada kejadian yang memberikan tekanan mental yang cukup tinggi.
Secara sederhana, munculnya gejala depresi tersebut disebabkan oleh respon otak terhadap stres. Pemicu depresi situasional berbeda-beda. Bisa dari kejadian yang bersifat positif seperti pernikahan atau menyesuaikan tempat kerja yang baru hingga kehilangan pekerjaan, perceraian, atau perpisahan dengan keluarga dekat.

4. Gangguan suasana hati musiman (seasonal affective disorder)

Orang yang mengalami gangguan suasana hati musiman akan mengalami gejala depresi yang berbeda-beda, tergantung pada musimnya.
Munculnya gangguan ini memang sangat berkaitan dengan perubahan waktu pada musim dingin atau musim hujan yang cenderung menjadi lebih pendek dan sangat sedikit sinar matahari. Gangguan ini akan membaik dengan sendirinya ketika cuaca sudah lebih cerah dan hangat.

5. Gangguan bipolar

Jenis depresi ini biasanya dialami oleh orang yang punya gangguan bipolar. Pada gangguan bipolar, pasien bisa mengalami dua kondisi yang saling bertolak belakang, yaitu depresi dan mania.
Kondisi mania ditandai dengan munculnya perilaku atau emosi yang meluap-luap. Misalnya rasa gembira atau ketakutan yang membuncah dan tidak bisa dikendalikan.
Kebalikannya, kondisi depresi pada gangguan bipolar ditunjukkan dengan sensasi tidak berdaya, putus asa, dan sedih. Kondisi ini pun bisa membuat seseorang mengurung diri di kamar, bicaranya sangat lambat seolah sedang melantur, dan tidak mau makan.

6. Depresi postpartum

Depresi postpartum terjadi pada wanita beberapa minggu atau bulan setelah melahirkan (postpartum). Munculnya gejala depresi berat pada masa postpartum dapat berdampak pada kesehatan dan ikatan batin antara ibu dan bayi.
Depresi ini bisa bertahan cukup lama, biasanya sampai ibu sudah haid lagi setelah melahirkan. Penyebab utama dari depresi postpartum adalah perubahan hormon, di mana hormon estrogen dan progesteron yang tadinya cukup tinggi pada masa kehamilan menurun secara drastis setelah melahirkan.

7. Depresi premenstrual

Jenis depresi ini dikenal juga dengan istilah Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Kondisi ini berbeda dengan premenstrual syndrome (PMS). Pasalnya, PMDD merupakan gangguan mood yang serius hingga mengganggu keseimbangan emosi dan perilaku.
Gehala-gejala yang ditimbulkan antara lain munculnya kesedihan, kecemasan, gangguan mood ekstrem atau sangat mudah marah.
PMDD kemungkinan disebabkan oleh adanya riwayat depresi sebelumnya pada seseorang dan bertambah parah ketika terjadi perubahan hormon atau memasuki masa PMS.

Sebenarnya Konsultasi ke Psikolog Itu Seperti Apa, Sih?

Sebenarnya Konsultasi ke Psikolog Itu Seperti Apa, Sih?

konseling psikologi

Tidak semua orang terapi atau yang pergi konseling psikologi pasti bermasalah dengan kejiwaannya. Perlu diketahui, kalau tidak semua terapis atau konselor yang menangani masalah psikologi hanya terdiri satu jenis bidang. Ada beberapa terapis yang mengkhususkan dirinya pada gangguan kesehatan mental yang parah (seperti skizofrenia), terapis yang menangani masalah sehari-hari, terapis yang menangani dan mengelola stres, atau konselor yang mengatasi masalah hubungan. Sama seperti dokter spesialis, psikoterapis dapat membantu Anda dengan berbagai kebutuhan, masalah dan tujuan.

Apa yang biasanya dilakukan saat sesi konseling psikologi?

Tiap konselor, terapis, atau psikolog punya cara yang berbeda-beda untuk menangani masalah Anda. Pada awal konseling, biasanya terapis akan menanyakan beberapa pertanyaan ringan untuk mengenal Anda lebih dekat. Mulai dari apa yang sedang terjadi dalam hidup Anda, apa yang membuat Anda pergi terapi, apa yang mengganggu hidup Anda, dan apa tujuan yang ingin Anda capai.
Pada saat konseling psikologis, terapis atau konselor akan mendengarkan dan mungkin mencatat beberapa hal yang Anda katakan, tapi tidak semua konselor akan mencatat. Anda tidak akan dikritik, diganggu, diinterupsi, atau dinilai saat Anda berbicara. Karena itu, Anda sebaiknya bercerita sejujurnya dan sebanyak-banyaknya soal diri Anda.
Curhatan dan percakapan Anda akan dijaga kerahasiaannya secara ketat. Di sinilah Anda bisa mengungkapkan apa yang Anda rasakan, secara jujur, gamblang, dan tanpa khawatir perkataan Anda akan menyakiti perasaan orang lain. Intinya, apa pun yang Anda mau, atau perlu katakan, semua akan baik-baik saja.
Kemudian, terapis biasanya akan menentukan pendekatan seperti apa yang terbaik untuk membantu Anda mencapai tujuan konseling. Dalam dunia psikologi, ada berbagai jenis pendekatan yang bisa dilakukan untuk membantu klien.
Yang paling populer antara lain adalah terapi kognitif dan perilaku (cognitive behavioral therapy atau CBT), terapi interpersonal, dan terapi psikoanalitik. Anda juga mungkin disarankan untuk ikut sesi terapi dalam kelompok.
Namun, pada dasarnya setiap jenis terapi ini mengharuskan Anda untuk membuka diri supaya bisa mendeteksi akar masalah (lewat curhat atau cerita ke terapis), mengelola emosi dan pandangan Anda soal akar masalah tersebut, baru kemudian terapis membantu Anda mencari jalan keluar. Baik itu dengan cara mengubah diri, menjauhkan diri dari sumber masalah, atau belajar teknik baru untuk mengendalikan emosi.
konsultasi psikologi

Beda psikolog, beda masalah, beda juga penanganannya

Setiap terapis, konselor, atau psikolog pasti punya cara yang berbeda untuk menangani masalah kliennya. Beberapa terapis atau psikolog mungkin akan menggabungkan terapi musik atau seni untuk mengatasi masalah Anda.
Ada juga yang menggabungkan latihan hipnoterapi, pembinaan hidup, meditasi, visualisasi, atau bermain peran untuk menyelesaikan masalah Anda. Hal ini akan terus berlanjut guna mencapai solusi dan tujuan untuk menghadapi tantangan yang Anda hadapi.

Bagaimana mencari psikolog atau konselor yang cocok?

Anda bisa menemukan psikolog, konselor, atau terapis yang cocok jika Anda bisa bersikap terbuka, nyaman dan bisa merasakan ada suatu perubahan yang baik setelah sesi konseling psikolog tersebut. Namun, jika Anda merasa tidak nyaman, atau merasa dihakimi, Anda mungkin perlu mencari orang lain yang bisa membantu Anda. Tidak apa untuk pergi ke beberapa tempat mencari terapis atau psikolog yang tepat.

Pergi ke konseling psikologi bisa membuat hidup lebih baik

Dengan melakukan sesi konseling atau terapi, hal ini cukup berharga untuk bisa membantu Anda memecahkan masalah, menetapkan dan mencapai tujuan, meningkatkan kemampuan berkomunikasi atau menjaga tingkat emosi dan stres Anda tetap normal. Di mana dengan keseimbangan dari dalam diri Anda, ini bisa membantu Anda membangun kehidupan, karier, dan hubungan yang Anda inginkan.
Apakah semua orang membutuhkannya? Tidak juga. Namun, jika Anda penasaran dan merasa membutuhkannya, tidak usah sungkan dan malu dianggap bermasalah. Cobalah untuk membuat janji satu atau dua sesi untuk curhat atau meluapkan apa yang Anda rasakan dengan hidup. Dengan begitu, niscaya Anda akan memiliki cara untuk menghilangkan stres sesuai masalah, pemahaman diri, dan kebahagiaan jangka panjang untuk mendapatkan.

5 Cara Bijak Menyikapi Berita Hoax dan Negatif Agar Tidak Stres

5 Cara Bijak Menyikapi Berita Hoax dan Negatif Agar Tidak Stres

menyikapi berita hoax dan negatif

Pembunuhan, penganiayaan, korupsi, dan isu-isu negatif lainnya yang bikin stres mungkin sudah jadi makanan Anda sehari-hari. Menyikapi berita hoax dan negatif di media sosial, juga koran dan TV, memang butuh dicerna dahulu baik-baik. Bagi orang yang hobi menelan isi berita mentah-mentah tanpa disaring bisa menjadi bumerang untuk dirinya. Salah-salah, bisa membuat kesehatan mental, cara pandang, dan pola pikir jadi rusak. Lalu adakah cara untuk menyikapi berita hoaks atau negatif yang beredar agar tidak merusak pikiran dan bikin stres? Simak caranya di bawah ini, ya.

Yang bisa dilakukan untuk menyikapi berita hoax dan negatif

1. Perhatikan dulu kondisi emosional Anda saat membaca berita

Selain untuk meraup keuntungan, berita-berita tertentu kerap digunakan sebagai “kendaraan” untuk mengubah pikiran dan persepsi Anda terhadap berita yang disiarkan. Sebetulnya, ada cara untuk menyikapi berita hoax dan negatif agar tidak memengaruhi diri. Begini, awalnya coba amati kebiasaan Anda untuk mendapatkan informasi.
Saat Anda menonton atau membaca berita, apakah Anda memerhatikan cara Anda menerima informasi yang disiarkan? Beberapa isi berita kadang membuat Anda jadi mual, sakit perut, atau sakit kepala.
Hal yang Anda rasakan pada tubuh ini umumnya berhubungan dengan emosi negatif. Ini merupakan sebuah reaksi yang melibatkan sistem saraf simpatik Anda, hampir mirip dengan kondisi kecemasan.
Ada baiknya untuk memerhatikan bagaimana tubuh dan perasaan Anda bereaksi. Jika berita yang Anda dapatkan bikin stres, stop dulu. Jauhi sumber informasi dari handphone, media sosial, televisi, dan lainnya. Ini penting agar kesehatan mental Anda tetap terjaga dan otak tidak kewalahan dengan emosi negatif yang membuncah.

2. Batasi waktu untuk mengakses berita

Membaca berita tentu sangat penting, tapi jangan sampai Anda jadi terobsesi dan merasa harus selalu update soal dunia luar. Anda harus bisa membatasi diri untuk mengakses informasi-informasi yang sifatnya cenderung negatif atau bahkan hoax.
Hal ini dilakukan juga agar Anda bisa tetap bersikap positif, tidak negatif terus menerus. Anda bisa membatasi diri dengan meluangkan waktu-waktu tertentu saja untuk membaca atau menonton berita.
Contohnya setiap hari atur waktu untuk membaca berita di jam dan waktu tertentu, seperti membaca berita pada pagi hari sebelum berangkat kerja. Selebihnya Anda luangkan waktu untuk melakukan hal yang lebih berguna, sehingga Anda bisa memberikan energi positif lebih banyak di hidup Anda.  

3. Imbangi dengan hal-hal yang positif dalam hidup

Setelah melihat berita negatif di sana-sini, imbangi dengan hal-hal atau lingkungan yang bersifat positif dan menghibur. Misalnya dengan bercengkerama dengan sahabat dan keluarga (tapi jangan membicarakan hal-hal yang negatif secara non-stop), menekuni hobi Anda, berolahraga, dan jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan. Intinya, cari kegiatan yang membuat Anda merasa lebih enteng dan bahagia.

4. Saring sumber beritanya dengan baik

Media sosial telah menjadi sumber koneksi utama berita-berita yang sedang terjadi. Namun, bisa menjadi bumerang juga bagi Anda yang suka menelan mentah-mentah isi informasi di media sosial.
Untuk menyikapi berita hoax atau negatif yang banyak beredar, Anda harus sangat selektif dalam menyaring berita dari mana saja yang bisa dipercaya dan pantas dibaca. Hindari informasi dari sumber yang gemar mendramatisir atau membesar-besarkan suatu kejadian, misalnya. Perhatikan juga apakah kualitas atau nilai beritanya memang penting dan baik, bukan cuma sensasi sesaat (yang biasanya justru hoax).

5. Buat perubahan untuk diri Anda sendiri dan sekitar

Kadang masyarakat hanya bisa mengeluh dan menuntut, tanpa membuat perubahan lebih baik yang berasal dari dirinya sendiri. Bagi Anda yang sudah muak dengan berita-berita negatif di media, hal ini bisa jadi salah satu momen tepat untuk membuat perubahan.
Beranjaklah dari depan TV, letakan handphone, dan bergabunglah untuk menjadi relawan atau ke komunitas tertentu untuk membuat perubahan kecil tapi besar dampaknya. Di mana aksi lebih terbukti berhasil daripada hanya menggerutu di media sosial tanpa membuat dunia jadi lebih baik.


Gangguan Skizoafektif, Gabungan Gejala Skizofrenia dan Depresi

Gangguan Skizoafektif, Gabungan Gejala Skizofrenia dan Depresi

gangguan skizoafektif

Di Indonesia, akses terhadap pengobatan dan pelayanan kesehatan jiwa masih belum memadai. Akibatnya, sebagian besar penduduk di negara ini, terutama di pelosok-pelosok desa, kerap memperlakukan pasien gangguan jiwa dengan tindakan yang tidak layak seperti pemasungan. Kenali gangguan skizoafektif, salah satu jenis penyakit mental yang sering disangka sebagai “gila” atau kesurupan.

Apa itu gangguan skizoafektif?

Gangguan skizoafektif adalah gangguan mental di mana seseorang mengalami gabungan gejala skizofrenia, seperti halusinasi atau delusi, dan gejala gangguan suasana hati seperti depresi atau mania. Ada dua jenis gangguan penyakit mental ini yang  masuk ke dalam gejala skizofrenia. Kedua jenis gangguan skizoafektif tersebut adalah tipe bipolar yang meliputi mania dan depresi berat, dan tipe depresi yang hanya mencakup gejala depresi saja.
Seperti yang dilansir dari situs Mayo Clinic, gangguan skizoafektif sangat sulit untuk dipahami, tidak seperti penyakit gangguan mental lainnya. Mengapa sulit untuk dipahami? Karena gejala skizoafektif sendiri cenderung berbeda-beda pada setiap orang yang mengalami gangguan ini.
Gangguan skizoafektif yang tidak segera mendapatkan pengobatan dan perawatan akan mengalami penurunan secara berarti dalam melakukan tugas sehari-hari, termasuk penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala-gejala penyakit mental ini.

Apa saja gejalanya?

Gejala gangguan skizoafektif bisa berbeda pada setiap orang, tergantung pada jenis gangguannya, apakah tipe bipolar atau tipe depresi. Seseorang yang mengalami gangguan skizoafektif biasanya akan mengalami sebuah siklus gejala. Ada saat di mana mereka mengalami gejala berat dari gangguan ini, lalu diikuti dengan membaiknya gejala. Berikut gejala yang biasa ditunjukkan oleh seseorang yang mengalami gangguan skizoafektif:
  • Mengalami delusiMemiliki kesadaran palsu dari pemaknaan kenyataan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
  • Mengalami halusinasi. Sering mendengar suara atau melihat hal-hal yang tidak ada.
  • Gejala depresi. Sering kali merasa hampa, sedih, dan tak berharga.
  • Gejala gangguan suasana hati. Terjadi perubahan suasana hati atau peningkatan energi secara tiba-tiba yang tidak sesuai dengan perilaku atau karakter.
  • Gangguan komunikasi. Jika diberikan pertanyaan hanya akan menjawab sebagian pertanyaan atau memberikan jawaban yang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan.
  • Tidak bisa melakukan aktivitas keseharian. Mengalami penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah.
  • Tidak peduli dengan penampilan. Seseorang yang mengalami gangguan ini, tidak bisa merawat dirinya sendiri dan tidak peduli dengan kebersihan.

Penyebab seseorang bisa mengalami gangguan skizoafektif

Sebenarnya para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizoafektif secara pasti. Kondisi ini diduga berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan. Namun ada beberapa faktor risiko yang diduga berpengaruh dalam pembentukan kondisi ini, di antaranya:
  • Faktor genetik dalam keluarga yang memiliki  gangguan skizoafektif, skizofrenia atau gangguan bipolar.
  • Kejadian berat atau rasa stres berlebihan yang bisa memicu gejala.
  • Mengonsumsi obat psikoaktif dan psikotropika.
Seseorang yang memiliki gangguan skizoafektif berisiko tinggi terhadap:
  • Bunuh diri, usaha bunuh diri atau pikiran untuk bunuh diri.
  • Terasingkan.
  • Konflik keluarga atau dengan orang lain.
  • Pengangguran.
  • Gangguan kecemasan.
  • Mudah terlibat dalam penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang.
  • Masalah kesehatan.
  • Kemiskinan dan tunawisma.

Diagnosis gangguan skizoafektif

Jika Anda memiliki kerabat atau teman-teman yang menunjukkan gejala skizofrenia, segera bawa ke dokter. Makin cepat penyakit ini terdeteksi, semakin baik. Peluang sembuh seseorang yang mengalami skizofrenia akan lebih besar jika diobati sedini mungkin. Karena skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater.
Dokter mungkin akan kesulitan untuk mendapatkan keterangan jika bertanya langsung pada seseorang yang mengalami skizoafektif karena mereka cenderung tertutup, menyangkal, atau sama sekali tidak menyadari gejala yang ada. Untuk mengatasi hal ini, dokter perlu bertanya kepada orang-orang yang mengantar seseorang yang mengalami skizoafektif berobat, misalnya keluarga atau teman.
Selain evaluasi psikologis, kadang-kadang dokter juga akan memberlakukan jenis pemeriksaan lain, seperti CT scan MRI, dan pemeriksaan darah. Pemindaian lewat CT scan atau MRI pada kasus skizoafektif dimaksudkan untuk melihat adanya kelainan pada struktur otak dan sistem saraf pusat. Sedangkan pemeriksaan darah dilakukan untuk memastikan bahwa gejala bukan disebabkan oleh pengaruh obat-obatan, alkohol, atau kondisi kesehatan lainnya.

Bagaimana cara pengobatannya?

Dalam menangani skizofrenia, dokter akan mengombinasikan obat-obatan dengan terapi psikologis. Obat yang biasa diresepkan dalam kasus ini adalah antipsikotik. Antipsikotik bekerja dengan cara memengaruhi zat neurotransmiter di dalam otak (serotonoin dan dopamine). Pada seseorang yang mengalami skizofrenia, obat ini bisa menurunkan agitasi dan rasa cemas, menurunkan atau mencegah halusinasi dan delusi, serta membantu menjaga kemampuan berpikir dan mengingat.
Setelah gejala skizofrenia reda, pasien skizoafektif membutuhkan terapi psikologis di samping harus tetap melanjutkan konsumsi obat. Di dalam terapi psikologis, pasien akan diajari cara mengatasi stres dan mengendalikan penyakit mereka melalui identifikasi tanda-tanda kambuh. Selain itu, seseorang yang memiliki penyakit ini juga akan diajari cara meningkatkan kemampuan komunikasi agar bisa tetap berinteraksi secara sosial. Terapi ini juga bermanfaat untuk kembali mengembangkan kemampuan pasien dalam bekerja.
Terapi psikologis tidak hanya diperuntukkan bagi pasien. Ahli terapi juga perlu memberikan edukasi pada keluarga pasien tentang cara menghadapi skizoafektif.

Teman Sedang Bad Mood, Bisakah Kita “Ketularan”?

Teman Sedang Bad Mood, Bisakah Kita “Ketularan”?

suasana hati buruk

Jika teman sekantor Anda sudah ada yang terkena batuk dan pilek, mudah ditebak sebentar lagi bisa jadi Anda atau teman yang lain akan segera mengalami hal yang sama. Jika ditanya mengapa? Tentu jawabannya karena virus bisa menular. Rupanya, hal serupa bisa terjadi bila menyangkut suasana hati, entah itu suasana hati buruk atau ceria, Anda bisa tertular atau menularkan hal ini pada orang lain. Bagaimana bisa? Berikut penjelasannya.

Suasana hati buruk seseorang ternyata bisa menular

Menurut sebuah penelitian dari University of Warwick, emosi Anda yang mengakibatkan perubahan suasana hati bisa menular. Dengan bantuan beberapa pemodelan matematika, tim peneliti ini menggunakan data dari National Longitudinal Study of Adolescent to Adult Health dan menemukan bahwa suasana hati buruk maupun baik memiliki kecenderungan untuk menyebar ke seluruh lingkaran sosial.
Rob Eyre, seorang pemimpin penelitian ini sekaligus peneliti statistik kesehatan masyarakat menyelidiki apakah ada bukti suasana hati individual seperti nafsu makan, kelelahan, dan tidur dapat menyebar melalui jaringan pertemanan. Para peneliti menemukan, jika Anda terus-menerus dikelilingi dengan orang-orang yang ceria, maka Anda lebih mungkin untuk merasakan hal yang sama. Tapi jika teman Anda adalah sekelompok orang yang memiliki suasana hati buruk, Anda juga mungkin akan merasakan hal yang sama dengan mereka.
Meskipun depresi tidak sepenuhnya terbukti menular dalam penelitian ini, namun temuan ini dinilai berguna dalam pengobatan maupun pencegahan depresi, menurut profesor Frances Griffiths dari Warwick Medical School.
Memahami bahwa suasana hati ini dapat menyebar secara sosial diharapkan dapat menjadi target utama untuk mengurangi risiko depresi, dan target sekunder dalam mengurangi suasana hati buruk atau yang bersikap negatif. Jadi, jika Anda tidak tahu mengapa Anda sering mengalami suasana hati yang buruk, lihat-lihat apakah ada teman Anda yang lebih dulu merasakannya?
teman yang depresi

Kenapa mood bisa menular?

Psikolog sendiri menyebut fenomena ini dengan penularan emosional. Ada tiga proses tahapan mengapa perasaan bahagia atau sedih sesorang bisa berpindah ke orang lain seperti yang dilansir dari Scientific American. Tahap pertama ketika Anda menjalin sebuah isyarat nonverbal dengan seseorang yang melibatkan gestur tubuh dan ekspresi wajah.
Ketika Anda ada di tahap ini, melihat wajah seseorang yang merasa sedih akan cenderung membuat Anda bertanya dalam hati “Mengapa ia bersedih atau berpikir apa yang sedang terjadi?”. Tahap ini sering disebut dengan tahap mimikri nonsadar.
Karena Anda memikirkan hal ini, Anda juga akan merasakan perasaan sedih yang dialami seseorang, tahap ini sering disebut tahap umpan balik. Di tahap terakhir, ketika seseorang yang sedang merasa sedih ini membagi kesedihan mereka dengan bercerita kepada Anda, maka perasaan emosinya akan sampai kepada Anda.
Jadi, ketika Anda bertemu dengan seorang teman kerja yang sedang murung atau memiliki suasana hati buruk dan tidak sengaja mengamatinya, tanpa sadar Anda juga ikut merasakan kesedihan itu. Namun jika teman Anda sedang bahagia, maka Anda juga ikut larut dalam kebahagian ini.
Namun, penularan ini hanya terjadi di lingkungan sosial Anda, yaitu orang-orang yang Anda kenal. Semakin Anda dekat dengan seseorang, semakin besar kemungkinan Anda bisa menularkan atau tertular emosi tersebut. Penelitian lain mengungkapkan hal ini lebih sering terjadi pada orang-orang yang memiliki rasa empati lebih tinggi.

Lalu apa yang harus Anda lakukan ketika bad mood datang?

Lakukan hal-hal positif

Seperti mendengarkan musik dan membantu orang lain. Saat membantu orang lain, sulit bagi Anda untuk terpuruk dalam perasaan suasana hati buruk atau bad mood. Sementara itu, mendengarkan musik yang berirama riang dapat membantu meredakan bad mood yang sedang melanda.

Terapkan pola hidup sehat

Pola hidup sehat dimulai dari  mulai rutin berolahraga, cukup istirahat, dan biasakan mengonsumsi makanan sehat. Sering-seringlah keluar dari ruangan tertutup untuk menghirup udara segar dan berolahraga seperti bersepeda, berjalan kaki, main tenis, berenang, atau melakukan olahraga lain yang Anda sukai.
Di samping itu, cukupi kebutuhan tidur malam selama tujuh hingga sembilan jam. Kurang tidur dan kelelahan bisa memicu kemuraman dan mudah marah yang pada akhirnya menurunkan kemampuan Anda untuk mengelola suasana hati.

Mengatur pola makan

Konsumsi makanan yang bisa membantu memperbaiki mood, seperti tomat, avokad, ubi manis, pisang, quinoa, serta telur. Selain itu, bila Anda rentan mengalami bad mood saat perut Anda kosong, coba makanlah tiap 3-4 jam sekali.
Namun, utamakan makanan yang sehat dan seimbang, serta hindari makanan olahan dan yang mengandung lemak trans. Di samping itu, bila Anda rentan bad mood ketika menjelang menstruasi atau sindrom pramenstruasi (premenstrual syndrome/PMS), maka Anda bisa mengurangi konsumsi gula, garam, kafein mulai dari beberapa hari sebelum PMS.

Fokus pada satu hal

Sebuah penelitian menemukan bahwa suasana hati buruk lebih cenderung datang menghampiri orang yang pikirannya berkeliaran ke mana-mana atau tidak fokus. Oleh karena itu, kerjakanlah satu hal dengan fokus, seperti memasak, melakukan kerajinan tangan, atau lainnya.